Monday, August 22, 2016

Lagak Kota part 1

  Aku tinggal di sebuah perumahan cluster yang berada di pinggiran kota. Bisa dibilang perumahannya berada di lokasi yang mirip jalur gaza. Di sana 'coret' di sini 'coret'.
   Rumah ku tidak terlalu besar bergaya mediteranean. Sewaktu membeli rumah aku ingin merubah menjadi rumah yang sedikit modern, tapi developer melarang dengan alasan akan merusak estetika komplek perumahan. Aneh bukan? Rumah milik kita tapi hak perubahan tetap di developer. Pada saat itu aku tidak ingin berdebat dan menerima apa adanya. Toh, interior rumah nyaman dan sesuai keinginan ku dan istriku
   Saat ini sudah memasuki tahun ke 8 aku tinggal di perumahan yang namanya memakai embel-embel town house.
Istriku dan aku sering menertawakan istilah town house yang dipakai developer. Entah kenapa kami merasa nama itu tidak cocok.
   Dari sekian lama kami tinggal di perumahan ini, kami belajar banyak tentang kehidupan bertetangga dan menyadari efek domino itu ada. Dampak sistemik itu bukan hanya berlaku di perbankan tapi juga pertetanggaan.
   Aku teringat dulu ketika ngobrol dengan kepala sekuriti komplek. Sebut saja dia Tugiyo. Manusia ini luar biasa. Bukan dalam hal positif seperti yang dibayangkan. Aku katakan luar biasa karena dia punya daya tahan berbicara yang lebih dari manusia pada umumnya. Tugiyo bisa berdiri sambil menyombongkan dirinya selama 3 jam nonstop. Kesombongannya juga disisipi ancaman terselubung dan intimidasi halus dan ditujukan kepada pendengarnya.
Percaya atau tidak aku bisa mendengarkan ocehannya selama 3 jam. Bisa dibilang aku juga manusia luar biasa, luar biasa bodoh karena membuang waktu buat menampung sampah yang keluar dari mulutnya.
Itu tidak dilakukan kepada aku saja tetapi kepada ibu-ibu komplek yang tentunya menyampaikan kepada suaminya serta seluruh antero jagat komplek.
Celotehan Tugiyo begitu terencana dan tertata rapih sehingga ancaman dan intimidasi itu terkesan nyata dan spektakuler.
   Seluruh komplek dalam waktu setahun tunduk di bawah telapak kakinya. Kecuali beberapa bapak-bapak yang lebih pintar dari Tugiyo, dan itu hanya beberapa gelintir saja.
   Tugiyo dan bala tentaranya begitu menguasai komplek hingga keuangan komplek pun dia yang kelola. Aku lebih cenderung percaya kalau developer yang menyerahkan kekuasaan penuh kepadanya karena tidak mau pusing berurusan dengan warga yang terus menuntut perbaikan rumah yang bocor sana sini.
   Singkat cerita, masalah semakin besar ketika iuran warga tidak lagi dibantu developer namun semua dipegang Tugiyo. Simpang siur jumlah pengeluaran dan pendapatan komplek menjadi prahara. Segala macam keberatan warga dibalas kontan dengan teror dari Tugiyo cs. Baik berupa pengempesan ban kendaraan warga, kehilangan barang atau juga ancaman langsung kepada yang bersangkutan.
   Ini berlangsung cukup lama sampai pada saat warga resah dan membentuk kepengurusan yang terdiri dari warga yang berukuran badan besar. Menurutku sebuah upaya tandingan yang lumayan sukses untuk sementara waktu.
   Tidak sampai setahun, kejadian-kejadian janggal kembali berulang. Tampang dan setelan Tugiyo memang semi militer. Dengan selalu membawa kartu anggota kepolisian dan juga senapan angin di pos cukup membuat pucat beberapa warga.
   Tindakan tegas akhirnya diambil oleh beberapa warga yang dengan pintar menunjuk tetangga lain sehingga bisa menjadi tameng mereka.
   Terpilihlah tameng-tameng itu terdiri dari 3 orang yang didalamnya termasuk aku. Walaupun diperalat warga sebagai bemper, Tanpa sadar aku dan kedua tetangga ku masuk ke dalam sebuah perjalanan yang lucu dan menarik.